(Jum'at, 13 Juli 2007, hari terakhir ia shalat subuh berjamaah sebelum ia menyerahkan tubuhnya pada batangan besi panjang Kereta Api. Pakde Yoyok telah pergi, pagi itu. sebuah usahanyua menjemput maut. saudaraku, untuknya, kakak dari ibuku ini, saya minta sepotong do'a, semoga Allah, Tuhan yang maha Elok menerima kehadirannya. tak ada lagi kata. segalanya telah disusun sebagai rencana dan garis nasib. pakde, selamat jalan.. selamat jalan... kami tak berani menatap tubuhmu waktu itu. tubuh yang tak lagi bisa kami kenali. tidurlah yang tenang....)

Sepotret Ungu
;kepada paman
di hari yang kelewat subuh
kau terus saja memotretmotret
masalalu warna ungu
serta pecahan kaca jendela kian
berdebu
rajutan katakata dari mulutmu
kau tudungkan tepat di atas kepalaku
setelah sebelumnya menekan kencang
tombol blitz
yang kelewat tak mau berkilat
lalu segera menggantinya dengan
guratan kilat ludah
yang muncrat dari mulutmu
setelah potret ibu, adik dan tahu
ada di tanganmu
kau robekrobek jadi duapuluh entah limapuluh
sebagian sobekannya kau sembunyikan
di plastik bekas minuman
serta lainnya kau lempar ke udara
serupa hujan salju, menjelma kupukupu
sayang, jaring dari helaian ubanmu
tak lagi mampu menangkap si kupukupu
untuk melengkapi mim, nun, wau
di lembar akhir huruf hijaiyahmu
yang tertulis di balik potret
sungguh, aku tak pernah punya lagi
setelah kata bijak
selain; diam.
yogyakarta, 2007