Senin, 16 Juni 2008

sajak

Malam Pengusiran

maka pergilah

sesaat tamat riwayatmu
bangkubangku peribadatan yang dingin
tak membuat tubuhmu menggigil
hingga kau yang dulu begitu cengeng
berjalan sendirian sepanjang aspal kota tua
merasakan ketiadaanmu
melewati musim hujan tanpa menginginkan mantel
atau berjalan dimusim panas tanpa apapun
matamu merah
mungkinkah kau sedang marah?

kau pernah merasa angin
mampu berdesir membunyikan lonceng biara
yang berat dan berkarat
berulangulang
dan kau merasa itu puisi
puisi yang akan sampai padanya

maka demi burungburung kecil
pemakan biji mahoni di halaman biara
yang beterbangan karena mendengar
lonceng yang asing
dengan segala kutukan
dia pun relakan kau hilang di ujung gang
yang remang dan tercium aroma
alkohol murahan
setelah itu kau makin tiada
di matamu,
dunia mengubah seluruh lelaki
menjadi gila dan berkalung salip yang
hampir patah
—tak kan kau temukan dia diantaranya—
maka bercakaplah dengan jejak tubuhnya
di tubuhmu saja.

januari 008

Jumat, 16 Mei 2008


Di Kaki Merapi

bersama koto

Di kaki merapi

Aku tibatiba datang

Ke rumahmu; Gendhot

Jalan licin dan terjal batubatu

Menghantarku pada aroma air yang

Sedikit nakal

Menari di atas daun kelompong

Sawahsawah terasiring berkabut

Juga petani yang lalu

Lalang membawa tomat

Melebur seluruh jarak yang

Membikin kesemutan kakiku

Semua luruh menjadi gula

Di teh hangat bikinanmu

Kapankapan aku akan

Datang kembali

Bukakan lagi pintu rumahmu

Untuk kami, sepasang burung

Yang tak berumah

Dukun, maret 2007


Liang

-perempuan itu

1.

sepi berputar di balingbaling waktu

bersama tubuh yang remuk beserta isinya

memuntahkan setiap jengkal kisah

kau hitunghitungi

dengan ruasan jari tangan

hey, mulut ibu fasih bercerita

tentang boneka barbie

membelah menjadi dua atau tiga

di hutan bakau dan rawarawa

karena dosa berapungan

lalu timbul tenggelam

dimainkan gelombang pasang

di waktu yang ituitu juga.

2.

ini masih dari cerita ibu

konon;

pekikan pangkal waktu

disulap menjadi keluh

sejenak hening cipta

mengenang semedi kemaluan

yang diseret peluru waktu

memberi bercak merah

berubah jadi darah

yang mengaramkan segala takut

segala kalut dan rasa malu

3.

cerita ibu terus saja berlantun

di kedalamaan laut yang berkecipak

memberi riak

pada ranjang di atas perahu

yang terburuburu digoyangkan

sungguh,

untuk semua yang bernama pergulatan

seluruh karam telah dilabuhkan

seluruh labuh telah dikaramkan

yogyakarta, 2006

Sabtu, 12 April 2008

catatan sajak


Catatan Membanting Pintu
indrian koto

untuk berapa ratus kali lagi
aku membanting pintu
dan pergi dari rumah
lalu dengan santun mengetuk
untuk kembali pulang

bantinglah
bantinglah lebih keras
saat kau marah
maka lukisanmu di rumah ini
akan semakin mengabur
ditiup udara liar yang jahat, katamu

masih tertinggal bunyi
dengusan nafasku lebih cepat
dari detik
dan seakan penghitung waktu
mulai tak berfungsi sebagai mana
mestinya
saat kau pergi, tambahmu

perdebatan melulu itu
bermaafan dengan segala kedunguan
dan aku akan kembali membanting pintu

ah biarlah, tiap masalah
akan menemukan jalannya sendiri.

Minggu, 16 Maret 2008

Seorang Sakit


Seorang Sakit

biar kubentang sapu tangan
yang kubayangkan serupa bendungan
di matamu. ada air mata yang menjelma mata air
hidup miris
sebab kelewat banyak menelan pil
yang pahit
"bagaimana rasanya manis?"
"bagaimana rasanya asin?"
Rintihmu dengan gigil
yang belum pernah kutemukan

terlihat olehmu
segerombolan bocah telanjang
berenangrenang di matamu, menggodamu
tapi kau tak pernah bisa menjaring apaapa
kecuali ceceran doa yang hampa
rumah baru yang ditawarkan
untukmu: kesunyian

yogya, 2007

Duri Di Lidahmu

Duri Di Lidahmu

Ini sakit yang betah berlamalama
Masa lalu menjilat pada tubuhku
Tubuhmu tak mau bisu

O, padang pasir
Kubayangkan wajahmu yang tebal
Sepanas itu
Kaktus, igauan paling nyata
Untuk para kafilahkafilah

Kulemparkan padamu air pada tubuh kerasku
Tapi durinya
Mendarahkan lidahmu
Tak ada yang tahu
Tak ada yang mau tahu

/kbr 2007

Kamis, 14 Februari 2008

sajak meminta tuhan


Meminta Tuhan

di sepanjang jalan yang becek ini
aku masih saja sendirian
menyerunyeru nama tuhan
merasakan kehadirannya
lewat gesekan dedaun
dan hujan jelmaan tangis
yang dialamatkan pada siapa saja

aku masih saja sendirian
melihat nyala lilin yang kudus
mendengar kesaksian dan pujian
dari jauh

o, lilin. jadilah jala bagiku
perahu yang hampir karam
dan kalau pun aku tenggelam
aku terjebak dipalung yang tenang

aku selalu datang padamu
dengan telanjang
apa yang telah kau berikan
seluruhnya kukembalikan
dan kalau kau merasa
belum seluruhnya
ambillah apa saja yang tersisa

hentikan
hentikan segala pemberian
asal kau tak berhenti menggembalakanku

2007