Rabu, 18 April 2007

Mama Mana Tahu Aku, Sebuah Puisi

sebutlah ini sebagai gumaman yang katakanlah tak jelas. aku yang limbung oleh bayang dan segala yang mengambang
terserahlah..

Mama, Mana Tahu Aku


mama, mana tahu aku

tentang janjiku yang berkuncup

di semak kaca jendela


malam menggeser mimpi kali ini

tentang persemedian

wangi kembang dan kepulan menyan

yang membentuk bulatan wajahmu

lamat-lamat hilang di tiupi udara

bertengger di tengkuk lehermu

mama, mana tahu aku

tentang janjiku yang berhamburan

di halaman harimu


meninggalkan puntung dan robekan

busa kasur

lalu cepat-cepat angin mengerdipkan

sesisih matanya

semua habur berubah jadi kuncir

yang merangkum rambut mimpimu


ini desahan lain senggama bintang-bintang

yang memuncratkan cahaya di hatimu

hingga segala serak lapuk

dan disangsikan


mama, mana tahu aku

tentang janjiku yang menjelma

tangismu




Pesan di Resah Hujan


Pesan Di Resah Hujan

-djati waloejo

lewat surat kemarin sore yang tak sengaja

teselip di dalam tumpukan mimpi.

aku melihatmu menanak nasi

dengan api kompor yang belum sempurna

dinyalakan.

gerimis mengemas resah hujan

sedang kau sisipkan rasa buah di setiap

racikan ketawarannya.

dan aku yang terbata mengeja

kata-kata dalam surat teka-teki silang

luput meminta nasi dan air rasa buah.

hanya wijen yang ada

saat kau lupa menaburkannya

di atas castengel keju kesukaanku.

Jumat, 13 April 2007

Ini Tentang Rindu



Rindu

Menjengkal jarak pada dua kelopak
mataku
piyamaku basah oleh rindu
yang memanjang panjang.

2007

sajak Pendek


Tentang Nafas

saat aku bernafas
aku ingin uap airnya
menjadi tinta
untukku menulis puisi

07/01/07

Bunga Hujan yang kuselipkan di Telingamu

kuselipkan di telingamu bunga hujan
kupetik petang ini
di antara dedaun basah airmata tuhan

bunga hujan penghibur akhir kabisatmu
yang tumbang dari tangkainya

melalui sesendok harap
lewat dzikir buah murbei
yang kau kunyah setengah matang
mulutmu fasih melafaz doa
agar di penghujung tumpul tahunmu
ada pesta permen di hutan telaga nila

semisal kerlip lampu
dan musik jadi dinyalakan
kau kenakan
gaun warnawarni sisa mendung
tak berlutut

cuaca memintal emas, membuang
benang-benang perak
dan gaunmu melengkung
di antara kelopak langit lalu setelahnya
secepat tarikan kesunyian
kuselipkan di telingamu bunga hujan
kupetik petang ini
di antara dedaun basah airmata tuhan

peta Hitam Kepulangan



Melalui sayap sajaksajak mikail*
aku datang untuk berpulang.
Menghirup ranum malam kampung halaman.
Memberi setampan nangka muda
buah tangan dari pohon nanar terbakar.

Aku datang untuk berpulang.
Mencium anyir pasir
yang menggerakkan ujung mimpiku.
Di atas sayap sajaksajak mikail
menyisir setiap bulunya
hingga hilang semua perih
dan habur segala garam bagi luka buyut,
kakek dan nenek

Aku datang untuk berpulang.
Mendengar selingkuh batubatu
menempel di kerutan dahi para ibu
yang menggendong bulan di punggungnya
lalu berjalan lantang di pematang
untuk menaruh sesisih cahaya
di putih mata kananku
dan sesisih lagi di putih mata kiriku.

Aku datang untuk berpulang.
Berpulang entah ke mana.

Poetika, 2007

*mikail=malaikat bersayap satu di novel dadaisme

Kamis, 05 April 2007

isyarat waktu



sebelum mataku ditutup
biarkan kutampung gelisahmu
dalam mangkuk daun ceplok piring
hanya untuk menyimpan sebongkah lupa
yang dititipkan hujan lewat sunyiku
kepada lelaki penunggang komedi putar;
kupersembahkan balon berwarna merah
sedang kau tersenyum getir
menelan kesunyian lain yang kutawarkan
tarikan bibirmu ranggas oleh waktu
lewat kusenkusen pintu yang tak jadi dihuni
22/10/06